JABLAY

Jaringan Berbasis Layanan

Bloging

Ujian Nasional Tlah Tiba, Hore...Hore...Hore!

Posted by Uzhe Phriatzna on April 15, 2013 at 6:40 AM

Ketika menghadapi ujian, perasaan yang seharusnya muncul adalah debar senang karena akan naik jenjang ke kehidupan yang lebih tinggi. Anak-anak usia SD yang remaja awal akan naik ke jenjang SMP. Juga usia remaja akhir, yakni SMP akan naik ke jenjang SMA. Selain itu, dari rema ja akhir ke masa remaja dewasa awal, yaitu dari SMA ke jenjang Perguruan Tinggi, bekerja atau menikah.

Mari kita gambarkan kuat-kuat bahwa lulus ujian itu menyenangkan. Menghadapi. Menghadapi ujian berarti menuju jenjang hidup yang lebih tinggi. itu terwakili dari warna baju seragam sekolah yang berdeba. Ada juga hak dan kewajiban baru pada jenjang yang lebih tinggi yang dulu tidak diperbolehkan. misalnya, mengurus KTP dan SIM yang berarti diperlakukan sebagai orang dewasa oleh Negara.

Kegembiraan itu kini tertutupi aneka "hati-hati" dan "awas". Menjelang ujian nasional (UN) yang terdengar hati-hati, sudah dekat ujian, ayo belajar (dan seakan belajar hanya untuk ujian); awas, sekarang sulit lho ujiannya, awas sekarang pengawasannya semakin ketat. Hati-hati macam soalnya banyak atau awas nggak bisa nyontek (seakan menyontek adalah hal yang dibenarkan). Dampaknya, adik, kakak, teman main, televisi atau aktivitas bermain dijauhkan agar anak bisa belajar untuk menghadapi UN. UN seperti menjadi musuh besar.

Mengapa jadi terkesan menyeramkan ? UN juga dijadikan sebagai tolok ukur prestasi sekolah, sehingga sekolah tersebut merasa terbebani. Beban itu dibagi kepada guru dan selanjutnya guru menbagi beban tersebut kepada anak didiknya. Akibatnya, anak sekolah menjadi instrumen dalam mencapai prestasi sekolah. Bukan sebaliknya, prestasi anak yang mendongkrak prestasi sekolah. Makna itu berbeda. Yang satu, anak menjadi objek dan satu lagi anak menjadi subjek. Akibatnya, dua hal tersebut juga berdampak berbeda dalam perkembangan anak.

Dalam perspektif psikologi perkembangan rentang kehidupan (life span perspektif), psikologis perkemabngan anak sebelumnya akan mempengaruhi psikologis perkembangan selanjutnya. Pengalaman UN yang menyeramkan dan menakutkan akan memepengaruhi psikologis perkembangan anak selanjutnya. UN telah menguras semua aspek perkembangan anak, mulai kognisi, afeksi dan psikomotor sang anak. Anak mengasah kognisinya dengan memperbanyak latihan soal (metode drill) yang membuat mereka seperti mesin dan menghafal jenis soal. Muncullah strategi anak memecahkan soal namun tidak memahami konsepnya. Dalam diri anak juga terjadi perkemabangan afeksi atau emosi. Nah, sayangnya, emosi yang terstrimulasi dalam kelas kehidupan UN adalah perasaan cemas, takut dan superheboh. Karena ittu, anak-anak tidak mudah lagi tersenyum (atau mungkin senyum juga dilarang, harus serius karena mau UN). Gambaran yag terjadi adalah wajah anak yang capek karena turorial pelajaran yang terus-menerus dan cemas dalam menghadapi ujian.

Psikomotor jelas terlihat mulai gerak tangan yang mencoba menghitamkan lembar jawaban ujian (LJU), sehingga sensor penglihatan dan koordinasinya dengan gerak tangan juga terasah secara terus-menerus karena latihan ujian yang terus-menerus pula.

Wow..........terlihat sekali bahwa kehidupan anak yang menjalani unas terstimulasi dalam segala aspek perkembangan. Tentunya, harapan orang tua, pendidik dan orang dewasa lainnya adalah psikologis perkembangan anak yang terasah karena unas itu bisa berdampak positif. Bagaimana caranya ? Tahap pertama, membuat lingkungan yang menyenangkan. Ajari anak bersikap positif. Unas memang ditunggu-tunggu sebagai tanda penuntasan jenjang pendidikan.

Ujian Nasional merupakan gerbang ketuntasan dalam jenjang pendidikan. Sukses melaksanakan UN adalah penanda ketuntasan anak di jenjang yang ada (bukan penanda prestasi sekolah, apalagi penanda prestasi Kepala Dinas Pendidikan). Nuansanya harus dibuat seperti ketika anak menunggu liburan dan seperti nyanyian penyanyi Tasya saat masih kecil (penyanyi cilik). Libur tlah tiba, libur tlah tiba, hore...hore...hore! Setelah sikap positif terbentuk, motivasi akan mudah diberikan agar anak tumbuh percaya diri dan rieleks. Terbukti, anak-anak yang mempu mendapat nilai tinggi bukanlah anak yang menduduki rangking atas, tetapi justru anak-anak yang tidak terduga.

Psikologi mereka tenang karena tidak ada tekanan untuk menjadi yang terbaik seperti anak-anak rangking atas. Selanjutnya, ketika bersikap positif dan percaya diri, anak akan merasa bahwa tanggung jawab menyelesaikan UN dengan nilai baik merupakan tanggung jawab pribadinya. Dia tidak harus ikut bertanggung jawab atas nilai teman-temannya agar nilai UN-nya disekolah baik. Personalisasi tanggungjawab itu membentuk pribadi tangguh dan siap menghadapi tantangan. Dia tidak berharap menunggu bantuan jawaban dari temannya yang dianggap pintar.

Katika anak mulai bertanggungjawab dan tangguh, muncullah kejujuran, sehingga mengikis prakti mencontek. Sekali lagi, anak tangguh adalah anak yang mahal dan langka saat ini. Alangkah banyak orang tua yang karena perasaan bersalahnya sering memebrikan fasilitas agar anak tidak merasa susah atau permisif.

Dari titik awal sikap positif itu, dengan tahap yang positif pula, secara psikologis anak kita, generasi penerus kita akan tumbuh menjadi anak yang berkembang dengan baik. Pengalaman UN adalah pengalaman yang menyenangkan dan menjadi penanda ketuntasan jenjang pendidikan serta batas akhir kemampuan memasuki tahap psikologis perkembangan selanjutnya. Mari ajak mereka bernyanyi gembira. UN tlah tiba,,,,,,UN tlah tiba.....hore,,,hore,,,hore!!!

Categories: News, Education, Infotainment

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments