JABLAY

Jaringan Berbasis Layanan

Bloging

SUSU FORMULA MENGANDUNG SAKAZAKI

Posted by Uzhe Phriatzna on February 11, 2011 at 1:50 AM

Inilah Kronologi Kasus Susu Formula Tercemar

Kamis, 10 Februari 2011 | 11:09 WIB

 

 

Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan serta IPB hari ini, Kamis (10/2) mengumumkan susu formula yang tercemar enterobacter sakazakii. Putusan Mahkamah Agung yang mewajibkan tiga lembaga itu mempublikasikan daftar susu formula yang diduga tercemar bakteri tersebut hingga akhir Februari 2011.

Kasus ini bermula ketika Institut Pertanian Bogor mengungkapkan hasil penelitiannya pada Februari 2008. Sebanyak 22,73 persen susu formula dan makanan bayi mengandung Enterobacter sakazakii. Bakteri ini berbahaya bagi organ tubuh seperti pembuluh darah, selaput otak, saraf tulang belakang, limpa, dan usus bayi.

Penelitian tersebut dilakukan selama 3 tahun terhadap 22 sampel susu yang mengandung bakteri enterobacter sakazaii antara tahun 2003-2006. Penelitian dilakukan terhadap tikus yang diinfeksi enterobacter. Hasilnya tikus itu mengidap enteritis (peradangan saluran pencernaan), sepsis (infeksi peredaran darah) dan meningitis (infeksi pada lapisan urat saraf tulang belakang dan otak).

Kemudian, sejumlah pihak mendesak Kementerian Kesehatan, BPOM dan IPB mengumumkan susu formula yang tercemar tersebut. Namun, ketiganya menolak dengan beberapa alasan antara lain pertimbangan etika, penelitian belum teruji pada manusia tetapi pada tikus, dan belum ditemukan kasus bayi yang terinfeksi enterobacter setelah mengkonsumsi susu.

Pengacara David M.L. Tobing menggugat Institut Pertanian Bogor, Badan POM, dan Menteri Kesehatan untuk mengumumkan penelitian di Pengadilan Negeri Pusat pada Maret 2008. Sebagai seorang ayah, David resah, sebab kedua anaknya mengkonsumsi susu formula. Pengadilan mengabulkan permohonan David pada Agustus 2008 agar pihak tergugat mengumumkan susu yang tercemar. Namun ketiga pihak tergugat mengajukan banding.

Pihak tergugat kembali kalah di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri. BP POM, IPB dan Kementerian Kesehatan mengajukan kasasi. Pada 26 April 2010, Mahkamah Agung memutuskan tiga pihak mengumumkan seluruh merk susu formula melalui media massa yang memuat informasi detil dan transparan.

 

Daftar Susu Formula yang Diteliti BPOM

 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melansir sejumlah produk susu formula yang beredar di lapangan periode 2008 yang digunakan sebagai sampling.

Dalam kurun tiga tahun terakhir tak kurang 128 susu formula yang berada di lapangan diambil untuk kepentingan sampling, rinciannya 2009 sebanyak 11 merk susu formula, 2010 sebanyak 99 merk susu formula, serta 18 merk susu formula yang tercatat hingga awal Februari 2011. Rinciannya merk susu yang digunakan sampling BPOM yakni :

Tahun 2008 sebanyak 11 merk susu formula : Frisian Flag Tahap I (diproduksi PT Frisian Flag Indonesia), Susu Lactona I (diproduksi PT MIROTA KSM INC), Lactogen I, Lactogen I, Lactogen IkKetiganya diproduksi Nestle Indonesia), SGM Tahap I, Vitalac BL, SGM I, Vitalac I, SGM Tahap (keenamnya di produksi PT SARI HUSADA).

Tahun 2010 sebanyak 99 merek susu formula : Anmum infacare PT Fontera Brand Indonesia, (belum beres semunya).

Tahun 2011 hingga awal Februari sebanyak 18 merk susu formula yakni : BIMBI LOLA rendah Laktose (PT Netania Kasih Karunis PIER), Neosure oleh Abolt Laboratories, Enfamil A+ oleh Mead Johnson Nutrition (Philipines), Pre NAN dan NAN 1 (keduanya oleh Nestle Netherland), NL-33, Morinaga BMT (PT Kalbe Morinaga Indonesia), Lactogen Gold (oleh PT Nestle Indonesia, Nutricia Nutrilon Royal, Nutricia Nutrilon, Bebelac 1 (ketiganya oleh Nutricia Indonesia sejahtera) SGM BBLR, Vitalac Step 1, SGM LLM (ketiganya oleh PT Sari Husada) Susu Formula BIMBI 1 dan Susu BIMBI LOLA (keduanya oleh PT Netania Kasih Karunia PIER, Pasuruan) Susu formula bayi SGM Prenutrisi oleh PT Sari Husada, S-26 oleh Wyeth Nutrional.

 

Meski batal mengumumkan susu yang disebut tercemar bakteri Enterobacter Sakazakii, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) justru mengumumkan telah mengambil 128 sampel produk susu formula dari berbagai merek. Pengambilan sampel itu untuk menguji kemungkinan ada tidaknya bakteri.

Sampel itu diambil selama periode 2008 – 2011. Rinciannya 2009 sebanyak 11 merk susu formula, 2010 sebanyak 99 merk susu formula, serta 18 merk susu formula yang tercatat hingga awal Februari 2011.

Namun dalam pengujian sampel itu, BPOM tidak menemukan satu pun susu formula yang terkontaminasi.

Ada pun beberapa sampel susu formula yang diuji BPOM antara lain produksi:

PT Mirota KSM Inc

PT Frisian Flag Indonesia

PT Nestle Indonsia

PT Sari Husada

PT Fontera Brand Indonesia

PT Gizindo Prima Nusantara

PT Indofood CBP Sukses Makmur

PT Indolakto

PT Kalbe Morinaga Indonesia

PT Mead Johnson

PT Mirota KSN

PT Netania Kasih Karunia Pier

PT Nestle Manufacturing Malaysia

PT Nutricia Cuijk Holland

PT Nutricia Indonesia

PT Nutricia Indonesia Sejahtera

PT Serena Indo Pangan Industri

PT Sugizindo untuk PT Sari Husada

PT Wyeth Indonesia

PT Wyeth Nutrisional Singapore

PT Mirota KSM

Wyeth Nutritionals Ireland

Abott Laboratories

Mead Johnson Nutritition

Nestle Netherland

Sementara berikut sebagian merek susu dan makanan bayi yang diuji BPOM:

Frisian Flag

Lactona

Lactogen

SGM

Anmum Infacare

Sun Baby Tomat Wortel

SUN Beras Merah

Indomilk

Chilmil

Morinaga BMT Platinum

Enfamil

Dancow 1 rasa madu

Dancow full cream

Dancow Nutri Gold

Cerelac Nestle

Bimbi Susu Formula

Nutrilon Hypo Allegenic

Anlene

Vitalac

S-26

Neosure

Pre Nan

Anlene Actifit Vanilia

Bebelac susu formula

Nutrilion I

Nan Nestle HA 1

Nutricia Bebelac 1

 

Bahaya Bakteri Sakazakii dalam Susu Formula

Angka kematian akibat infeksi E. Sakazakii pada bayi baru lahir sekitar 40-80 persen.

 

Terkait dengan pengumuman merek susu formula berbakteri oleh Kementerian Kesehatan RI, isu ini kembali mengundang keingintahuan publik. Kabar tercemarnya sejumlah susu formula dengan bakteri E. Sakazakii tentunya meresahkan banyak orangtua.

Untuk menjawab keingintahuan Anda, kenali bakteri E. Sakazakii dan apa bahayanya terhadap kesehatan bayi dan balita berikut ini

Dikutip dari situs Fakultas Pertanian IPB, Enterobacter sakazakii (dibaca: enterobakter sakazaki-ai) merupakan salah satu patogen gram negatif yang sangat mematikan pada bayi baru lahir, usia 0-6 bulan. Sementara bakteri Sakazakii merupakan ancaman bagi bayi berusia 6-12 bulan.

Angka kematian akibat infeksi E. Sakazakii pada bayi baru lahir sangat tinggi sekitar 40-80 persen terutama pada bayi prematur dan bayi dengan imunitas lebih rendah daripada bayi pada umumnya.

Bakteri ini berada di saluran pencernaan dan ditemukan dalam berbagai produk seperti susu formula, keju, daging, biji-bijian hingga bumbu-bumbuan. Bakteri E. sakazakii berkembang optimal pada kisaran suhu 30-40 derajat Celcius. Kontaminasi E. Sakazakii pada susu formula diperkirakan terjadi pada saat proses produksi.

Bila satu sel bakteri mengkontaminasi, dalam lima hari produk susu tersebut telah mengandung endotoxin yang sangat berbahaya bagi kesehatan bayi. Hal ini, menurut situs tersebut, dibuktikan dari penelitian di seluruh dunia, bukan hanya di IPB.

Hingga kini, berbagai studi terus mencari penyebab kontaminasi susu berbakteri. Diduga, E. Sakazakii mengontaminasi produk susu formula lewat udara. Sehingga, diperlukan mekanisme Hazard Analysis Critical Control Point atau analisis titik penanganan kritis pada bahaya di tingkat produksi susu formula.

Pada penggunaan di rumah, susu bayi pada umumnya disiapkan dengan proses yang minim pemanasan. Biasanya, susu formula hanya dicampur air hangat kuku dengan suhu kurang dari 70°C, yang tidak cukup untuk mematikan bakteri ini.

Racun endotoxin bakteri akan menyebabkan diare, enteritis (radang usus), sepsis (keracunan yg disebabkan oleh hasil proses pembusukan), dan meningitis (peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang).

Disebutkan, infeksi bakteri akan menyebabkan gejala demam dan diare, yang bukan hanya disebabkan bukan hanya E. sakazakii tetapi juga bisa oleh mikroorganisme lainnya. Bila bayi dan balita mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Categories: News, Sciens, Kesehatan

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments